Bem ISIF

Bem ISIF
Badan Eksekutif Mahasiswa Institut Studi Islam Fahmina

cari

Kamis, 08 Januari 2015

MENCERMATI KORELASI BUSANA DAN POLITIK

MENCERMATI KORELASI BUSANA DAN POLITIK
Oleh: Doddie Yulianto

“Ajining raga saka busana, ajining diri kanthi budhi pakarti”
menghargai badan dari busana, menghargai pribadi dengan budi pekerti
  
Dalam tiga bulan lebih hingga saat ini, waktuku selalu dipenuhi pada satu hal BUSANA. Ya kebetulan sekali aku mendapat kepercayaan terlibat dalam tim yang mendesain ulang busana prajurit tiga keraton Cirebon (Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan), busana yang akan digunakan untuk pertama kalinya pada tanggal 27 November dalam kirab (devile) pasukan keraton memperingati hari Jadi Kota Cirebon yang memasuki usia 566 tahun. Demikianlah, rasanya lebih tepat jika apa yang kulakukan ini adalah desain ulang, walaupun ingin sekali melakukan restorasi, mengembalikan pada bentuk aslinya. Namun, kritik pun muncul dari sumber yang sangat patut didengar, yaitu Rama Gusti ing Kasepuhan Sultan Sepuh XIV PRA Arif Natadiningrat, “Anda mau mengabil referensi kostum di zaman apa? Zaman Sinuhun Jati? Zaman Kesultanan? Jika kesultanan, zaman kekuasaan siapa? Ingat Kasepuhan sudah berdiri begitu lama, dan lagi sumber datanya apakah ada?”

Rentetan pertanyaan beliau, Pegusten yang lenggah di Kasepuhan ini seakan menamparku, karena data tentang busana begitu minim. Pak Dudung (Abdullah Yuliarso), Produser acara ini (Kirab pasukan) semula menjanjikan setumpuk data dari Leideen, Belanda, untuk dijadikan sumber utama. Inilah alasan utama kenapa aku bersedia mengambil tawaran pekerjaan ini, mendapatkan sekeping puzzle dari sekian banyak kepingan yang hilang, ini satu langkah maju guna menampakkan ujud Cirebon sebenarnya. Nyatanya yang ia dapatkan di sana data visual (foto) abad akhir 19-an, tak lebih. Data yang tak cukup kuat untuk dijadikan pijakan.
Keterbatasan data tentang busana prajurit keraton, mengingatkan pada apa yang tertera dalam Naskah Mertasinga dan Daghregister VOC tahun 1650-an, dinyatakan jika Raja Cirebon Panembahan Ratu II (kelak dikenal dengan nama Panembahan Girilaya) ditahan oleh Sunan Amangkurat II di Ibukota Mataram berserta para pengiringnya, termasuk putranya Pangeran Martawijaya (kelak menjadi Sultan Sepuh I Sultan Abul Makarim Muhammad Samsudin) dan Pangeran Kertawijaya (kelak menjadi Sultan Anom I Sultan Abul Manakhir Muhammad Badridin), mereka tidak boleh menggunakan busana kebangsawanan, dari mulai raja sampai pengiring lapisan terbawah, tanpa terkecuali. Kebijakan Amangkurat itu seakan-akan menunjukan kekuasaan Cirebon atas dirinya sendiri telah berakhir. Sangat terang jika itu adalah bentuk regulasi politik dari pemegang penuh kekuasaan politik untuk suatu simbol politik.  
Hal itu berpengaruh bagi busana serta regalia di Cirebon. Sekarang tak ada satupun keraton di Cirebon yang menggunakan Mahkota, paling banter Kanoman dan Kacirebonan yang menggunakan kuluk (tarbus) ala Mataram Islam, genuine Cirebonkah itu? Silakan anda sendiri memberi penilaian.
Sedangkan dari sebuah sumber disebutkan, ketika Ibukota Mataram terbakar akibat serangan Den Maduretna Tumenggung Trunajaya dari Madura, ikut pula terbakar mahkota Kerajaan Majapahit dari era Rajasanagara (Raden Wijaya) yang menjadi simbol jika Mataram adalah penerus Majapahit, Demak, Pajang sebagai penguasa tertinggi di pulau Jawa. Tunduknya Mataram Islam terhadap kekuatan asing, bisa kita lihat pula dari busana, sebuah riwayat menyebutkan ketika Prabu Amangkurat III dilantik ia memakai busana seragam militer admiral Kerajaan Belanda.        
Bahkan hingga abad 21 sekarang busana dan remeh-temehnya menjadi salah satu kelengkapan simbol politik, terutama  bagi negara-negara yang tetap mempertahankan bentuk kerajaan (monarki). Namun relasi serta sinergi busana sebagai bagian kehidupan politik tidak hanya monopoli penguasa semata,  busana juga menjadi simbol perlawanan atas tiran.
Para pendukung gerakan People Power di Pilipina yang bertujuan melawan Ferdinand Marcos, menandai dirinya dengan busana berwarna kuning. Lain lagi di Thailand, di sana para pendukung Thaksin Sinawatra melancarkan gerakan kaos merah, sebagai bentuk perlawanan atas pelengseran Thaksin dari jabatan perdana mentri. Gerakan ini memuncak hingga terjadinya pertumpahan darah. Kalau mau surut ke belakang dan lebih terasa bagi kita orang Indonesia adalah penggunaan sarung oleh kaum santri. Hal itu tak semata-mata  menjaga tradisi, itu merupakan simbol perjuangan anti penjajah Belanda. Pijakannya ada pada sebuah hadis, “barangsiapa meniru sebuah kaum maka ia menjadi bagian dari kaum tersebut.” dengan tidak meniru busana Welanda, tegasnya santri menolak apa yang dilakukan penjajah dalam bentuk apapun, termasuk dalam hal berbusana. Ironis sekali, salah seorang da’i kondang yang cukup ternama dalam sebuah reality show pemilihan da’i muda di salah satu TV swasta, manakala mengomentari busana salah seorang kontestan, “Dulu emang nggak ada celana makanya pakai sarung.” Ironis, orang yang menjadi bagian gerakan tersebut tak memahami apa yang melatar belakangi sampai hal itu terjadi.
Politik pun menciptakan trend fashion, walau pun semula - mungkin sekali – tak bertujuan untuk itu. Ketika Alm. Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI ke-4, beliau kerapkali memakai kemeja batik dengan kerah rendah ala Cheong-Sam atau kerah Sanghai alias kerah kampret, busana santri zaman baheula, motifnya mengambil dua gaya batik yang di masa Soeharto hampir-hampir tak dilirik, Batik Yogya dan Batik Cirebon. Maraklah permintaan kemeja batik ala Gus Dur dari berbagai kalangan masyarakat, terutama kalangan birokrat dan kalangan menengah ke atas. Apa yang menjadi pilihan fashion stylish Gus Dur secara tak langsung turut berperan menghidupkan ekonomi rakyat yang terpuruk oleh hempasan krisis ekonomi global. Ini sepertinya bukan semata-mata dengan alasan mengikuti trend, tapi ada  “pengikut” yang mencoba mengaktualisasikan dirinya di tengah-tengah masyarakat sebagai bagian dari Era Reformasi.
Jika kita coba kaitkan dengan petatah-petitih yang ada di pembuka tulisan ini, maka busana bisa - bahkan sering - menjadi parameter apa, siapa, kenapa, kapan, dan bagaimana alasan “adanya seseorang” dalam masyarakat dari tampilan luarnya.
Mengingatkanku akan judul kata pengantar yang ditulis Idi Subandy Ibrahim untuk terjemahan buku David Chaney, Lifestyles;sebuah pengantar komperhensif, terbitan Jalasutra, “Kamu bergaya, maka kamu ada!”







         

Perempuan Mengangkat Pena



Perempuan Mengangkat Pena
( Refleksi Peringatan Hari Ibu 22 Desember)
Hari ini di seluruh penjuru dan  pelosok nusantara merayakan peringatan hari Ibu 22 Desember. Sebuah peringatan terhadap peran seorang perempuan baik  dalam keluarganya, suami,  anak dan lingkungan sosialnya.
Ibu, sebuah nama dan kata yang begitu berarti bagi setiap orang. Sosok yang telah melahirkan kita ke dunia. Tak ada jasa yang bisa terbalaskan atas semuanya yang telah ibu lakukan. Bagaimana payah dan susahnya saat mengandung hingga mempertaruhkan nyawa saat melahirkan. Inilah jasa yang takkan terbalaskan. Kasih sayangnya tak pernah putus meski terkadang anaknya melakukan kesalahan. Sungguh tulus kasih sayangnya dan tak berbalas.

Saat momentum hari ibu hadir, begitu banyak hal yang dilakukan oleh kita. Ada yang memberikan bunga, membuatkan kue, makan malam atau bahkan hanya sekedar berkumpul sambil bersantai ria serta banyak cara lainnya yang dilakukan oleh masyarakat untuk memberikan hadiah dan kado terbaiknya untuk sosok yang tak tergantikan itu.
Lalu di lain tempat, banyak orang yang mengenang momentum ini dengan merefleksikan sosok ibu. Seminar, worskhop dan talkshow televisi, dan acara publik lainnya. Umumnya, acara-acara ini didedikasikan untuk mencatat betapa sungguh tak terkira perjuangan seorang ibu, yang hingga anaknya menjadi dewasa pun, tak pernah berhenti untuk menemani dan membimbing putra-putrinya. Sudah sewajarnya kita memberikan pengahargaan yang tak kira buat para ibu dan perempuan-perempuan hebat di negeri ini.

22 Desember
Adanya peringatan Hari Ibu Nasional awalnya diusulkan saat pertemuan Kongres I Perempuan Indonesia di Yogyakarta  pada tanggal  22- 25 Desember 1928. Acara ini dihadiri  oleh 30 organisasi perempuan dari 12 wilayah di  Jawa dan  Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini di kenal dengan Kongres Wanita Indonsia (KOWANI).
Organisasi-organisasi tersebut sebenarnya sudah ada sejak tahun 1912 yang mana diilhami oleh  para pejuang perempuan seperti Martha Cristin, R.A Kartini, Cut Nya Dien, Dewi  Sartika dan lain-lain. Namun Hari Ibu itu sendiri sebenarnya baru diputuskan pada Kongres ke III pada tahun 1938. Di mana Hari Ibu itu sendiri secara nasional diakui dalam Dekrit Presiden No. 316 Tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu yang diperingati dan  rayakan secara nasional sampai dengan saat ini .
                                                  
Mengangkat Pena
Momentum peringatan Hari Ibu memang begitu ramai diperingati, bukan hanya di lingkup keluarga, namun di kalangan masyarakat, mahasiswa dan semua elemen masyarakat lainnya. Mereka semua melakukan banyak  kegiatan yang berkaitan dengan momentum ini. Sebuah hari yang membuka mata kita tentang sebuah perjuangan dan perjalanan panjang perempuan. Ironisnya, perempuan-perempuan perkasa itu sepanjang sejarah, bahkan mungkin sampai saat ini berada dalam sisi gelap. Perempuan masih berada dalam ruang marjinalisasi sebuah sistem  yang tak  berpihak  terhadap perempuan. Sistem masyarakat patriarkhi yang mengungkung perempuana.
Kita perlu tahu bagaimana perjalanan panjang sejarah perjuangan perempuan tempo dulu. Hal ini dilakukan supaya kita sebagai generasi muda tahu dan mampu melakukan aktivitas yang meneruskan perjuangan pahlawan-pahlawan perempuan yang sungguh luar biasa tersebut. Hingga akhirnya mengantarkan perempuan pada masa kini  untuk mampu berperan dalam segala lini kehidupan. Perempuan tidak lagi hanya diposisikan dan disibukan dalam urusan domestik (rumah tangga). Juga untuk membebaskan perempuan apalagi hanya dengan stigma-stigma negatif.
Perjuangan R.A. Kartini, Dewi Sartika, Cut Nya Dien dan lain-lain, tak  pernah berhenti. Api semangatnya masih tetap menyala dan diteruskan oleh generasi muda hebat setelahnya. Kita tahu bagaimana R.A. Kartini melalukan perlawanan dengan mengangkat pena melalui surat-suratnya sebagai bentuk perjuangan akan ketidakberdayaan di lingkungan keluarga dan budaya patriakhi saat itu. Surat R.A Kartini yang sering kita dengar adalah “Habis Gelap Terbilah Terang”, di mana isi surat-suratnya adalah tentang cita-cita untuk memajukan kaum perempuan, harapan-harapannya dan perjalananya.
Tak sedikit perempuan-perempuan hebat yang telah menorekan tinta dalam catatan sejarah di masa kini yang dengan gigih memperjuangakan Hak asasi manusia (HAM). Sebut saja di antaranya adalah Suciwati, istri dari almmarhum Munir, aktivis pejuang HAM. Suci dengan gigih meneruskan perjuangan suaminya, memastikan masyarakat Indonesia terjamin hak-hak dasarnya.
Ada juga Siti Musda Mulia, sosok perempuan asal Bone, Sulawesi Selatan yang gigih memperjuangan kesetaran gender. Karya-karyanya dalam bentuk buku cukup banyak seperti buku yang berjudul “ Kesetaraan dan Keadilan Gender Menurut Perspektif Islam”, “ Budaya Bisu Merendahkan Perempuan”, “Menuju Kemandirian Politik Perempuan” dan berbagai karya lainnya yang memperjuangkan perempuan dengan torehan-torehan pena.
Penulis kira, dengan torehan dan mengangkat pena inilah kita mampu mengungkapkan apa yang menjadi keinginan dan hak perempuan yang selama ini masih terabaikan. Kita bisa menulis karena dengan menulis kita merdeka.
Dalam rangka reflekesi Hari Ibu, 22 Desember ini, penulis mencoba membuka mata dan mengangkat pena bahwa gerakan dan perjuangan perempuan perlu kita torehkan dengan pena. Tetesan pena adalah jejak langkah yang akan di terus dibaca dan akan terus dilanjutkan oleh generasi perempuan ke depan.
Semangat dan kegigihan yang pernah ditorehkan oleh para pejuang dan pahlawan perempuan dari Kongres III di Yogyakarta 1938 perlu kita ambil dan kita jadikan cambuk penyemangat untuk terus bergerak dan berkiprah untuk memajukan perempuan-perempuan di negeri tercinta ini. Demi menyongsong kehidupan yang lebih bermartabat, menghargai dan menjunjung tinggi kesetaran dan keadilan serta menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang adil gender.  Satu suara, satu perjuangan. Perempuan, raih hak-hak-mu! ”Wallahu a’lam”
*Penulis adalah Staff Institute Studi Islam Fahmina (ISIF) dan Koordinator Komunitas Muda Bayt Al-Hikmah.

Rabu, 07 Januari 2015

Dakwah PoP : Proses Penyadaran yang di setir



Dakwah PoP : Proses Penyadaran yang di setir
Oleh: Zaenal Abidin*
      “Pada tahun 1990-an kain atau atribut tanpa poster Gus Dur cukup sulit ditemui”.
            Dalam fikiran ini seolah ada yang mengganjal, ketika melihat fenomena-fenomena yang kiranya miris di benak ini. Kekerasan, kericuhan, keributan bahkan ejekan yang terlontar yang tak pelak merelakan pertumpahan darah, nyawa melayang, rumah hilang, kepercayaan tersudutkan, dan pelanggaran-pelanggaran norma social-keagamaan. Namun  hal itu terjadi bersamaan dengan strategi program dakwah dalam laku kultural bangsa ini yang begitu massiv, terutama di era pasca reformasi ini, ketika kran kebebasan begitu lebar terbuka nyaris tak terkendali. Namun dimana peran juru Dakwah selama ini? Yang senan tiasa begitu aktif melontarkan jargon-jargon agama, namun disadari atau tidak efek positif dalam keehidupan soisal kurang begitu kita rasakan.

            Kita pastinya tahu, program-proggram dakwah yang di agendakan setiap harinya oleh para industri pertelevisian nasional. Hampir disetiap waktunya program ini selalu disajikan, terutama pagi hari menjelang subuh, siang hari, sore hari menjelang magrib, mesikipun hanya beberpa menit saja. Bahkan kita dapat dengan mudah mngenali karakter dan ciri khas dari para dai trersebut sebut saja ustad GAUL, Mama Dudu, Ustad Copot, ustad Jamaah,,,, dan lain sebagainya.
            Tak mau kalah dengan pertelivisian, media elektronik semacam radio juga seolah tidak mau menyia-nyiakan momentem ini di berbagai acara selalu terselip ujaran-ujaran dakwah, tak arang mendatangkan tokoh-tokoh sekaliber dalang uje untuk TagShow, minimal di selingan pergantian iklan ataupun sebagai selingan  sang operator sementara pergi ke kamar kecil. Lebih ngeri lagi media cetak yang sekarang ini semakin menjamur terutama di daerah-daerah yang sedang berkembang Cirebon misalnya, banyak aran-aran baru. Muatan-muatan dakwah juga tak di kesampingkan, terbitan bernafaskan islam ini, diterbitkan dari mulai harian, dwi mingguan, perbulan, dwi bulanan, tri wulan. Atau bahkan pake media HP melaui telpon ataupun sms, bisa per detik, di pketkan setiap hari minggu,,, wah banyak lah pokonya.
            Begitupun sekarang ini, dakawah tidak hanya bergaung di masjid atau musolla, di kantor-kantor, di podium-podium bahkan di dunia maya ajakan kebaikan itu terngiang ditelinga kita. Seolah menjadi kebutuhan yang mendasar, sampai-sampai perusahaan besarpun mngagendakan setiap minggunya diadakan acara semacma itu. Semisal di desa saya yang terletak di desa Karangsuwung kec. Karangsembung Cirebon timur, stiap malam kamis diadakan pengajian bersama, istigosah dll tak jarang mendatangkan ulama dari luar daerah. Keren kan..
            Karena begitu populernya, para dai ini mulai berlomba-lomba memanjtapkan strategi dakwahnya dengan berbagai macam cara, dari mulai menunjukan kebolehannya dia bernyayi, ada pula yaang menunjukan kebolehan aktingnya, dari pembawaan dia yang bikin orang yang tadinya susah nangis jadi mbrebes mili , bikin ketawa, terkagum-kagum. Sampe adu atribut kostum. Seolah mereka lupa, bahwa mereka secara tak sadar sedang berebut audiens dakwah mereka, san merekapun mendapt pangsa pasarnya sendiri.
Dakwah Populer
            Islam sekarang ini dirasakan begitu membumi dan orang-orang sudah tak asing dengan kata-kata islami. Hal ini berkat kelihaian media dakwah sengan pendekatan populernya. Dakwah jadi terkesan selalu menarik di mata dan telinga kita. Wilayah dakwah menjadi meluas sepeti yang telah di paparkan diatas tadi.
            Nama islami begitu populer, ada musik islami, buku islami, alat komunkasi islami, pakaian islami, makanan islami, serba –serbi islami tidak berhenti diwilayah ini. Simbol keislaman bergerak dalam lorong-lorng historis yang mengesankan islam bisa hidup dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun.
            Pendekatan dakwah yang berbasis budaya pop ini, secara dzohir dirasakan begitu membumi dan begitu luwes barangkali bisa dikatakan mewakili ungkapan islam rahmatan lil`alamin, tidak anti dengan perkembangan zaman, lebih lunak dan dapat dengan mudah diterima kalangan masyarakat. Pandangan Barat islam itu identik dengan pedang dan irasional, namun dengan pendekatan dakwah pop  ini mulai menyadari bahwa islam itu toleran, rasional dlsb. Islam semakin mengglobal, namun tetap teguh dalam tatanan nilai universal-kemanusiaan-keislaman.
            Namu harapan itu tampaknya belum begitu tersalurkan secara nyata. Dakwah dengan pendekatan inni ternyata masih berada pada tataran tutur kata dan wacana, mengingat  budaya pop, dalam hal ini praktik-praktik keagamaan  yang banyak disukai orang  tutur Williams. Hal ini mengisyaratkan hal yang lebih dominan pada isyarat konsumtif dari hasrat keinginan sosial dalam tataran ego dan ambisi semata.
            Ktika musik bergenre regge laku di pasaran, beramai-ramai para musisi menciptakan musik seperti ini. Ketika novel dan bukuberkarakter religius laku di minati pasar, maka tak menunggu lama terbitan yang sama berikutnya berduyun mengikuti. Sama halnya ketika propesi dakwah dirasakan menjanjikan di minati pangsa pasar, berbondong-bondong masyarakat di sleksi menjadi dai yang sesuai kemauan pasar. Dan hal ini tidak akan berakhir sebelum genre-genre yang lebih baru dan menguntungkan itu muncul. Tak heran apabila M Abdullah Badri dalam tulisannya yang di muat di Majalah Manhaj menyebut fenomena ini sebagai tren lugu dakwah populer.
Kesadaran yang Ditentukan
            sulit kiranya membedakan secara ajeg, antara gerakan dakwah dan aktivitas ekonomi yang menggunakan pendekatan agama. Islam dalam konteks ini menjadi komoditas modal yang di gerakkan oleh tangan-tangan gaib industri dan si empunya industri. Dakwah pop disulap menjadi industri budaya berbasis agamis bin ekonomis. Menurut John Storey dalam bukunya Teori Budaya dan Budaya Pop, Industri budaya , menciptakan budaya yang ditandai dengan standarisasi , kemiripan, konservatisisme,  manupulasi.
Dampaknya dirasakan  masyarakat sendiri kita seolah digiring dan tidak dapat menentukan mana-mana yang harus kita pilih, konten dakwah yang kita butuhkan , selama ini berkisar pada tataran itu-itu saja tak jauh puasa, sodaqoh, solat. Ya memang itu yang di kehendaki pasar, kalo materi yang disampaikan njelimet sedikit rugilah mereka karana tau pola fikir masyarakat kita yang inginnya serba instan dan tidak mau berfikir secara mendalam. Bila ini beerlanjut dakwah semacam ini akan dirasakan hanya pada tataran permukaan, tidak dirasakan sehingga merubah prilaku sosial menjadi lebih baik. Dakwah dijalankan sebatas orientasi mental sesaat, sirat ayat yang menjanjikan perubahan diadikan alat pemanis. Sungguh ironi.
Pendeknya industri budaya mengecilkan hati masyarakat untuk berfikir diluar batasan yang ada.  Bahkan industri “dakwah” ini mengakibatkan mengubah prilaku kita, intelektual kita dan emosional kita diikat oleh ketergantungan yang sebenarnya kita tidak butuh. Kita lihat realitas sekarang, acara tagshow yang di isi oleh para dai kita, semuanya penuh dihadiri jamaahnya. Di acara-acara tertentu jamaah begitu bersemangat melontarkan pertanyaan-pertanyaan seputar agama, dan sang dai menjawab dengan tegas pertanyaan itu. Tak mau kalah dengan sang dai, para jamaah memakai busana yang seragam berwarna-warni.
Dari sekian pertanyaan tidak menjurus pada permasalahan sosial yang sedang mendesak terjadi sekarang ini, karna memang materi yang disampaikan juga tidak memadai untuk itu. Akibat berikutnya  kehidupan spiritual kita menjadi latah. Terjebak oleh simbol-simbol keagamaan, yang tidak didasari kesadaran akan esensi simbol tersebut. Sehingga dengan mudah kita di peralathanya dengan iming-iming ayat dan atribut kita sudah terlena tanpa mengetahui maksud apa di balik itu semua. Contoh saja calon pejabat kita, ketika akan mencalon dalam pidatonya ia mengumbar kedermawanan, kesalhan, namun nyatanya ia tidak sepenuh hati mengamalkan apa yang ia katakan dan janikan.
Kita kadang sulit membedakan apakah simbol, atribut yang kita pakai itu menjadi tanda komitmen keagamaan revolusioner? ataukah suatu komitmen pada mode fesyen , atau kah kedua-duanya?.
Pada saat ini kita berada pada posisi yang terhegemoni, ummat sekarang di giring dan di arahkan oleh kelas dominan melalui pemaksaan kepemimpinan moral (agama), dan intelektual. Dalam pembahasan ini proses pembentukan industri dakwah pop ini, berkembang mmenjadi budaya komersial, yang terlahir dari budaya industri yang begitu kuat di negara ini, kemudian diarahkan kembali melalui strategi seleksi konsumsi. Para dai yang dulu terkenal dengan ciri khasnya, lama kelamaan hilang nama dan pamornya hilang seiring bermunculan  sosok dai baru yang lebih menjanjikan bagi para produsen industri religi. Juga diarahkan kembali pada artikulasi yang seringkali tidak disengaja atau yang sudah diramalkan produsen. Banyak pula dai yang tidak tau ujug-ujug ramai didunia maya karena gayanya yang nyentrik, dan melihat pangsa pasar yang begitu menggiurkan maka strategi di lancarkan jadilah ia dai terkenal.
Dengan analisis neo-Gramscian ini budaya pop tidak lain kecuali tindakan konsumsi aktif masyarakat terhadap teks dan praktik-praktik yang dilancarkan industri budaya. Kaitannya dengan hal ini jmelas mereka tidak memikirkan konten apa yang di bawakan oleh sang dai, mereka hanya melihat ketika menguntungkan dan disukai masyarakat mereka akan manfaatkan. Tak heran jika bermunulan dai-dai yang rasanya tidak pantas di sebut sebagai ustad maupun kiai.
Para dai perlu pembekalan keilmuan yang m,emadai yang didasarkan pada kebutuhan rohani dan jasmani ummat, tidak sekedar pemuas moral namun sebagai pembvaharu yang dapat menyampaikan permasalahan ummat secara mendasar dan memberikan pencerahan, pemahaman yang kuat. Tidak hanya itu kita sebagai masyarakat jangan terjebak oleh strategi pasar yang efeknya akan merugikan kita.
Memang tidak mudah untuk mewujudkan ini semua, namun dari hati yang paling dalam kita perlu tanamkan kesadaran kita, kesadaran yang tidak disetir oleh orang lain namun disetir oleh diri sendiri karena Tuhan bukan yang lain. Wallahu `alam Bis showab.
*Penulis, mahasiswa ISIF Cirebon
FUD. Prodi Pemikiran Islam

           


           

Translate